27 April 2008

pemandangan cinta pada malam hari.

ia tak memiliki nafsu menelan makanan. entah apa lagi yang ingin ia katakan sebelumnya, otaknya tertumpu kepada pagi hari yang menyambut dengan kekecewaan. siang terbangun dengan pandangan kosong, berfikir apa ia harus keluar dari sangkar hari ini. alkohol kadar rendah sudah habis semalam, tinggal botol yang besar-besar dengan dosis tinggi. warna merah, warna emas, warna hitam..

malam ini mereka merayakan keterpurukan dibawah cahaya lampu..

aroma itu.. menutupkan mata dengan tendangan keras dari balik kepala. warna keemasan yang jernih, berlari-lari ke dalam pipa yang panjang. dengan bantuan sesulut batang rokok, rasa itu akan kembali netral. belum beberapa saat berlalu, datang sosoknya yang meliuk-liukkan tubuhnya di depan tiang panjang. tak jauh dari sana, ada seorang lelaki yang menikmati pemandangan itu dengan seksama; melempar pandangan yang menelanjangkan. seperti lintah yang sukanya meghisap darah, ia menghisap segala marwah manis. jenuh merambat perlahan-lahan ke dalam jiwa; lelaki itu memutarbalikkan tubuhnya yang sudah tak sanggup melihat anak-anak tangga dan kemudian terjatuh yang telah membangunkan dirinya dari segala keindahan malam, ia harus berjalan dengan kakinya sendiri balik kepada kepahitan hari-harinya yang tak ingin ia rasakan. tak cukup baginya berada di bawah semua itu dengan hati terpaksa, ia menginginkan lebih; lebih dari yang ia dapati dari sekadar puas mengalah kepada kewajiban di rumah.

di balik pemandangan itu; perempuan yang sudah menekuni profesi sedemikian rupanya pula tak sadar air mata sudah menggenangi ruang gantinya. ritual yang selalu membuatnya rancu akan apa yang sudah terjadi. bukan ia yang memilih jalan itu, melainkan hatinya. perempuan yang tak pernah puas oleh kebiasaan-kebiasaan yang bertaut dengan norma hidup. ia telah menghalalkan semua jalan untuk bisa gantian menghisap sisa-sisa hari yang ditinggalkan sang lelaki tadi.

begitu.. sang lelaki, sang perempuan; masing-masing pulang ke rumahnya. dengan hati menangis; menunggu waktu yang tepat untuk bisa bertemu, lagi..


:pruls.

0 comments: